
Komunitas Kita Edisi September-Oktober
14 11 2009Comments : Leave a Comment »
Tags: komunitas kita, media informasi, pemberdayaan
Categories : Uncategorized
Pemaafan Tulus Teungku Malikul Aziz
14 11 2009Sepuluh tahun sudah sejak 23 Juli 1999, kasus pembantaian teungku Bantaqiah dan sejumlah santri di pasantren babul Ala Nurillah Beutung Ateuh Nagan Raya Nanggroe Aceh Darusallam belum juga tuntas. Munir, salah seorang pejuang HAM yang gencar membela dan memperjuangkan keadilan untuk kasus ini pun ‘dibantai’ secara keji oleh segelas arsenik. Pertanyaan kita bagimana bangsa ini mengakomodir rasa keadilan warganya? Bagaimana dan seperti apa pemerintah menuntaskan aneka kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia dari peristiwa Tanjung Priuk sampai kasus Teungku bantaqiah? Dari Kasus Teungku Bantaqiah sampai kasus Munir?
Menanggapi berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi di tanah air, termasuk kasus pembantaian Teungku Bantaqiah, kepada Kris Bheda Somerpes dari Sunspirit For Justice and Peace, Teungku Malikul Aziz, salah seorang putra Teungku Bantaqiah yang sekarang menjadi pemimpin pasantren Babul Ala Nurillah Beutung Ateuh menanggapinya dengan sangat bijak. Pada Selasa, 30 September 2009 dalam perjumpaannya dengan beliau, beliau mengatakan bahwa tidak ada dendam sedikitpun terhadap para pelaku, justru sebaliknya beliau mengatakan bahwa kejadian tersebut merupakan ajal dari Allah.
“Saya tidak marah dan tidak dendam kepada mereka yang melakukan pembantaian, karena semua itu, atau sebab dari mereka itu merupakan ajal dari pada Allah, yang datang dari pada Allah. Tetapi saya sangat menyesal apabila mereka tidak mau kembali kepada jalan yang benar”
Demikian kata Teungku Malikul Aziz. Kemudian Teungku Malikul melanjutkan bahwa setiap perbuatan salah harus sungguh disesasli di hadapan Allah. “Ingatlah kejahatanmu yang pernah kamu lakukan terhadap orang lain dan lupakanlah kebaikanmu yang pernah kamu lakukan terhadap orang lain. Maka lupakanlah kejahatan orang lain yang pernah mereka lakukan terhadapmu. Maka bertaubatlah atas dosa-dosa yang telah kita kerjakan karena sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat”
”Maka, janganlah kamu lakukan kejahatanmu kepada orang lain seperti yang pernah kamu lakukan terhadap kami. Maka menyesalilah semua perbuatanmu yang terdahulu. Maka mohon ampunlah kepada Allah, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Pemurah”
Menurut Teungku Malikul Aziz, sebesar apa pun kejahatan yang dilakukan terhadapnya, keluarganya dan daerahnya, dia pasti akan memaafkan. Karena menurutnya, sebagai penganut Islam, seorang Islam tidak pernah mengajarkan orang untuk melakukan tindakan kekerasan apalagi membalas dendam.
”Karena balas dendam tidak ada gunanya. Karena Allah dan Rasull-Nya mengajak umat-Nya untuk saling maaf memaafkan. Karena Allah tidak pernah menerima amalnya apabila di dalam hati kita tergelincir dengan dosa. Maka dari itu marilah kita sama-sama membersihkan hati dengan penuh keimanan, penuh keyakinan, penuh ketabahan. Hapuslah sifat-sifat jahat yang ada di hatimu. Salah satunya adalah mengadu domba, saling menfitnah, saling menjelek-jelekkan dan sifat takabur, iri hati dan lain sebagainya”
”Maka marilah sama-sama kita mohon kepada Allah, semoga Allah menjauhkan kita dari sifat-sifat tersebut karena Allah menciptakan langit dan bumi, menciptakan manusia untuk saling menghargai, untuk saling menyantuni dan janganlah kita berlaku sombong di atas bumi Allah ini”
”Janganlah kita menganggap diri kita yang paling hebat hingga kita melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi Allah kepada orang-orang kecil. Karena sesungguhnya martabat manusia di muka bumi ini sama. Yang berbeda adalah suku, bahasa dan warna kulitnya. Janganlah melakukan kekerasan terhadap orang lemah. Karena sesungguhnya yang lebih perkasa hanyalah Allah SWT, yang sanggup menciptakan langit dan bumi lalu. Dan hanya Dia-lah yang sanggup menghancurkannya”
”Maka dari itu marilah sama-sama kita saling menghargai selaku kita hamba Allah yang menjalankan ridhoi-Nya. Dan marilah, yang besar yakni pemerintah kita hormati dan yang kecil seperti kami kita sayangi”
Comments : Leave a Comment »
Tags: BUDAYA DAMAI, pemaafan tulus, pembantaian teungku bantaqiah, perdamaian, teungku malikul aziz
Categories : BUDAYA DAMAI, CONFLICT TRANSFORMATION AND PEACEBUILDING
Andai Bungong Jaroe Jadi Bank Tani
14 11 2009Oleh: John Pluto Sinulingga
Pada kesempatan ini pembaca akan saya undang untuk berandai-andai tentang suatu tempat yang sebenarnya tidak jauh dari tempat tinggal kita (baca : Kecamatan Bubon dan Kecamatan Woyla). Tempat yang selama ini dijadikan sebagai pusat pelatihan (fungsi selama ini) bagi siapa saja untuk mengetahui tentang pertanian berkelanjutan (organik)secara teori dan praktek. Dengan satu bangunan yang cukup bagus sebagai ruang kelas bahkan untuk menginap, istirahat (kalau mau), hamparan lahan yang cocok untuk ditanami dengan tanaman semusim (palawija) ditambah dengan satu unit kandang kambing dan beberapa unit kandang ayam, membuat tempat yang dinamakan Bungong Jaroe ini sangat ideal sekali.
Namun dapat kita menambah fungsi “Bungong Jaroe” ini menjadi pusat perekonomian petani sekitarnya? Ini mungkin pertanyaan yang sangat gampang untuk dijawab, namun mewujudkannya saya rasa bisa juga segampang untuk menjawab pertanyaan di atas. Asalkan ada kemauan dan keyakinan dari petani sendiri untuk menambah fungsi “Bungong Jaroe”.
Kita sama-sama tahu bahwa sudah banyak petani-petani yang pernah datang dan mendapatkan pengetahuan tentang pertanian berkelanjutan (organik) dari “Bungong Jaroe” dan sekarang telah mengembangkannya di lahan masing-masing. Dan kita sama-sama yakin bahwa petani-petani yang pernah belajar di “Bungong Jaroe” telah menerapkan ilmu yang mereka dapat tersebut. Namun memang kita juga tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga petani yang masih belum menerapkannya secara maksimal.
Nah, jikalau saja petani-petani yang telah belajar pertanian berkelanjutan (organik) tersebut berhasil memproduksi kacang panjang, cabai, timun, semangka, gambas dan lain-lain. Kemana mereka akan menjualnya? Jawabannya bisa jadi, diutamakan untuk dikonsumsi sendiri, dijual ke tetangga satu kampung, dijual ke pasar tradisional terdekat atau biasanya dijual kepada agen-agen yang datang sendiri ke kebun-kebun petani.
Petani pada dasarnya akan butuh kepastian tentang ke mana hasil bercocok tanam mereka akan dijual. Nah, di sinilah “Bungong Jaroe” mengambil peran untuk memastikan kepada petani sekitar. “Bungong Jaroe” akan berfungsi untuk mempertemukan petani dan konsumennya secara langsung. Petani-petani yang selama ini terhimpun dalam satu jaringan petani dapat mendistribusikan hasil panen palawija (atau hasil panen yang lain kalau ada permintaan) ke “Bungong Jaroe” dengan harga yang telah disepakati bersama. “Bungong Jaroe” dengan pengelolanya harus dapat menghubungkan semua hasil panen tersebut dengan pelanggan-pelanggan di kota. Misalnya; rumah sakit, hotel-hotel, restoran dan rumah makan, bahkan pelanggan-pelanggan perseorangan yang paham tentang makanan sehat. Hal ini dapat dilakukan jika petani-petani melakukan proses bercocok tanam mereka secara kontinyu (tidak putus-putus).
Saya berikan contoh seperti ini. Untuk kebutuhan timun pang. Kalau saja setiap cafe, restoran atau rumah makan saja setiap hari membutuhkan 5 kilogram timun. Berapa banyak cafe, restoran atau rumah makan yang ada di Meulaboh? Misalkan saja jaringan petani melalui “Bungong Jaroe” dapat mendistribusikan 15 cafe, restoran dan rumah makan berarti dalam 1 atau 2 hari kita harus menyediakan 75 kilogram timun pang. Artinya jaringan harus dapat menyediakan timun pang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Nah, untuk memenuhi tersebut harus dilakukan penataan penanaman oleh petani di lahan mereka masing-masing sehingga ketika panen tidak sekaligus habis dijual. Namun ada persediaan cadangan di kebun untuk memenuhi kebutuhan pelanggan agar tidak terputus.
Kalau diamati dengan proses distribusi seperti ini akan memotong jalur pemasaran yang selama ini telah dibuat dan dikuasai oleh agen-agen yang terkadang membeli dengan murah hasil panen petani. Pendek kata apabila jalur pemasaran semakin pendek maka hasil penjualan yang diperoleh petani semakin lumayan. Disamping itu dengan memberdayakan “Bungong Jaroe” sebagai pusat perekonomian petani maka khayalak ramai akan paham apabila mencari bahan pangan yang sehat. Bahkan pelanggan-pelanggan perseorangan akan datang dan akan melihat sendiri proses bercocok tanam yang petani lakukan.
Melalui jaringan petani yang sudah terbentuk, proses simpan pinjam yang telah berjalan dapat dilakukan secara langsung di “Bungong Jaroe”. Istilah sederhananya “Bank Tani” atau koperasi. Karena setelah mendapatkan hasil jerih payahnya, petani dapat langsung menyimpan uangnya dan mengembalikan pinjamnya. Untuk mekanisme detailnya dapat dibicarakan pada pertemuan jaringan nantinya.
Hal terpenting menuju andai-andai saya tadi adalah petani-petani yang sudah tergabung dalam jaringan petani harus dapat menghasilkan panennya secara kontinyu, dapat membuat jaringan pemasaran dengan pihak-pihak yang membutuhkan (rumah sakit, hotel, cafe, restoran, rumah makan dan perseorangan), mengetahui informasi tentang harga dan pasar. Dan yang harus diingat bahwa keunggulan hasil petani adalah pangan yang sehat. Nah, fungsi “Bungong Jaroe” akan semakin banyak; sebagai pusat pelatihan, pusat perekonomian petani dengan hasil-hasil dari kebun masing-masing bahkan suatu saat akan menjadi “Bank Tani”. Semoga……….
*Penulis adalah penggiat dan fasilitator pertanian yang berkelanjutan
Comments : Leave a Comment »
Tags: bank tani, bubon dan woyla, bungong jaroe, john pluto sinulingga, pemberdayaan masyarakat, pertanian organik
Categories : FARMERS EMPOWERMENT
Mau Ke Mana Bungong Jaroe?
14 11 2009
Anggota Kelompok Jaringan Petani Pertanian Organik Terpadu Bungong Jaroe
Lama senyap dalam aktivitas kelompok masing-masing, kelompok petani organik 10 desa se-kecamatan Bubon dan Woyla seperti sudah kehilangan arah. Jaringan petani antar gampong Bungong Jaroe hampir kehilangan jejak mau ke mana harus berlangkah. Pengurus jaringan yang diharapkan dapat mengendalikan organisasi seperti sudah kehilangan nyawa. Pertanyaan yang muncul dalam setiap pertemuan di kelompok masing-masing adalah “mau kemana Bungong Jaroe?”
Menjawab pertanyaan tersebut pada Selasa, 27 Oktober 2009, anggota jaringan petani pertanian organik 10 desa se-kecamatan Bubon dan Woyla mengadakan pertemuan puncak membahas tiga agenda penting, yakni 1) evaluasi jariangan dan restrukturisasi, 2) rencana pembentukan koperasi dan 3) rancangan kerja tahun depan. Pertemuan yang berlangsung sehari itu akhirnya mengerucut pada satu titik yakni pentingnya penguatan struktur, menajamkan kembali visi dan misi jaringan agar agenda dan kegiatan bisa berjalan normal.
Untuk itu, anggota jaringan petani berusaha menegaskan kembali visi dan misi pendirian jaringan. Menurut para petani ada sepuluh alas an mandasar mengapa jaringan itu dibentuk yakni: 1) Mempersatukan kelompok Tani di 10 Desa, 2) Untuk mempermudah usaha Petani, 3) Menambah Pengetahuan cara bertani, 4) Bertukar informasi antar komunitas. 5) Belajar untuk membuat Pupuk. 6) Mensejahterakan Petani, 7) Pusat Pemasaran Hasil Pertanian.
Untuk mengenalkan Pertanian Organik, 9) Mengetahui peraturan yang ada dalam jaringan, 10) Untuk Mendapatkan Modal.
Berangkat dari visi dan misi tersebut jaringan petani antar komunitas di 1o desa diharapkan dapat kembali berjalan normal. Team 16 yang dibentuk pada pertemuan tersebut, yang terdiri atas 4 orang pengurus lama, 10 orang ketua kelompok tani di masing-masing desa dan 2 staff pemberdayaan SUNSPIRIT diharapkan dapat bekerja maksimal untuk menemukan bentuk yang tepat bagi Bungong Jaroe menjejakkan langkahnya ke depan.
Tugas utama team 16 adalah sebagai berikut: 1) Merekapitulasi jumlah anggota yang aktif dan tidak aktif, 2) Mengaudit semua jumlah uang yang sudah di tarik dari Bank. 3) Mengaudit dana yang sudah di pinjam oleh anggota kelompok masing-masing beserta nama-nama dari si peminjam. 3) Membuat surat pernyataan kapan si peminjam akan segera mengembalikan modal jaringan kepada jaringan. 5) Membuat pertemuan untuk menjelaskan hasil kerja dari tim 16. 6) dan pada saat yang sama meminta pertanggungjawaban pengurus lama atas kerja dan tanggung jawab mereka selama masa kepengurusan.
Inilah agenda besar jaringan petani organic Bungong Jaroe. Ke depan, menghadapai tantangan dan menemukan peluang, menghalau hambatan dan menyibak jalan keluar akan menjadi tugas bersama anggota jaringan petani. Sebab, apa yang sedang diperjuangkan adalah untuk petani itu sendiri, untuk kelompok dan jaringan. Mau kemana Bungong Jaroe?
(Kris Bheda Somerpes)
Comments : Leave a Comment »
Tags: 10 desa, bubon dan woyla, bungong jaroe, pemberdayaan masyarakat, pertanian organik
Categories : FARMERS EMPOWERMENT
Optimisme Damai SAKINAH
14 11 2009
- Dalam sebuah pertemuan reguler kelompok jaringan perempuan SAKINAH
Pada Senin, 12 Oktober 2009, dalam wawancara dengan Nima Sirait dari DAAI TV Jakarta, Ibu Zaitun, ketua jaringan perempuan SAKINAH mengatakan bahwa berbagai kegiatan yang dilaksanakan, baik kegiatan memasak maupun sulam-menyulam, baik pelatihan maupun pertemuan rutin yang diadakan sebenarnya memiliki tujuan yang sama yakni perubahan ke arah yang lebih baik secara ekonomis sekaligus mengangkat peran perempuan dalam memberi suara pada proses pembangunan perdamaian Aceh yang berkelanjutan.
Jawaban ini lahir bukan tanpa alasan. Sebab, seperti diketahui, ada begitu banyak hal yang hilang selama masa konflik. Perlu dicatat bahwa, bukan hanya korban jiwa yang berjatuhan, lantas menimbulkan trauma dalam setiap pribadi. Tetapi juga tubuh social masyarakat Aceh tercederai, dan ruang publik yang terburai dan tercerai berai. Contoh-contoh kongkret bisa diangkat lagi sebagai missal kehilangan kesempatan mencari makan dengan tenang, kehilangan rasa aman ketika harus keluar rumah, atau ke pasar, atau ke ladang dan kebun.
Ketakutan mengepung jiwa manusia dan kecurigaan melahap relung-relung kebersamaan. Pertanyaan yang terlontar hanya kapan semuanya usai? Kapan Aceh benar-benar damai dan aman? Kami kami bisa kembali meladang dengan tenang dan mencari makan tanpa rasa takut? Dan seterusnya.
Empat tahun sudah Nanggroe Aceh Darusallam kembali dalam pelukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Situasi yang aman dan damai perlahan-lahan dinikmati. Asap dapur kembali mengepul. Anak-anak sudah kembali beranjak ke sekolah. Yang meladang kembali berladang. Ruang sosial kembali dirajut. Walau sebenarnya proses untuk itu semua butuh waktu yang panjang, sebab mewujudkan Aceh yang benar-benar damai tidak cukup dengan secarik kertas yang ditandangani di Helsinki Finlandia pada 15 Agustus 2005.
Proses menjaga dan merawat perdamaian adalah proses mengubah kesadaran manusia untuk menerima peristiwa kelam, menemukan akar masalahnya, menemukan jalan keluarnya, lantas secara bersama-sama mendukung dan mendorong perdamaian menjadi sesuatu yang anyata dalam berbagai tindakan yang nyata pula.
Pembentukan kelompok jaringan perempuan SAKINAH, sejak dua tahun silam dengan berbagai aktivitas seperti pertemuan, pelatihan, kegiatan memasak, menjahit dan sulam-menyulam merupakan jawaban atas kebutuhan bagaimana membangun perdamaian yang berkelanjutan secara nyata. SAKINAH hanya merupakan salah satu contoh wadah/media nyata yang memampukan antara pribadi yang satu dengan yang lain, komunitas yang satu dengan komunitas yang lain, mimpi yang satu dengan mimpi yang lain bisa diperjumpakan dalam satu jalan, satu visi dan satu misi yang sama, yakni membangun Aceh yang damai dan sejahtera.
Dalam kerangka inilah, SAKINAH berani melangkah dengan penuh optimis. Sebuah optimisme yang senantiasa dirawat dan dijaga bersama dan berbagai tindakan dan kegiatan nyata. Karena mereka yakin dan percaya bahwa proses pembangunan perdamaian Aceh bukan hanya sekedar kata-bicara, tetapi juga fakta:kerja. Inilah optimisme damai SAKINAH.
(Kris Bheda Somerpes)
Comments : Leave a Comment »
Tags: DAAI TV, jaringan perempuan, jaringan SAKINAH, optimisme pada perdamaian
Categories : CONFLICT TRANSFORMATION AND PEACEBUILDING
Kurangi Penggunaan Pupuk Kimia
14 11 2009Terbentuknya struktur kepengurusan baru kelompok tani pertanian organik Beutung Ateuh pada akhir Agustus lalu diharapkan dapat memberikan perubahan cara kerja dan membangkitkan semangat kerja. Teungku Syarif sebagai ketua dan Teungku Burhan sebagai sekretaris diharapkan dapat menjadi motor penggerak untuk anggota kelompok petani yang lain.
Agenda pertama yang mendesak dibuat adalah mengadakan pelatihan lanjutan sistem pertanian organik kepada seluruh anggota, selanjutnya mengefektifkan dana dan modal jaringan agar dapat dipinjamkan para anggota.
“Pelatihan pertanian organik, seperti pembuatan pupuk dan pengolahan lahan sangat perlu agar para petani bisa secara perlahan-lahan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia dan tahu menggunakan lahan secara baik” demikian dikemukakan Teungku Burhan. “Karena di sini (Beutung) lahan sangat subur, dan banyak sekali bahan mentah yang dapat dijadikan sebagai pupuk organik” kata Teungku Burhan lebih lanjut.
Berkaitan dengan modal jaringan, menurut Teungku Burhan akan dilakukan dengan sistem pinjam meminjam. Anggota petani tidak diberikan modal dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk barang. Dan barang yang digunakan adalah untuk kebutuhan kelompok. “Setiap anggota boleh meminjam, tetapi dengan kesepakatan tertentu. Maksudnya selain agar barang tetap terawat, di antara anggota kelompok pun bisa tumbuh saling kerja sama” jelas Teungku Burhan.
(Kris Bheda Somerpes)
Comments : Leave a Comment »
Tags: beutung ateuh, pertanian konvensional, pertanian organik, petani, pupuk kimia
Categories : FARMERS EMPOWERMENT
Tas Buku Bergambar Donal Bebek
14 11 2009
Anak-anak/para santri dan santriwati, peserta pendidikan perdamaian di Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh
Ada dua hal yang unik jika diperhatikan dengan saksama dalam setiap proses kegiatan belajar mengajar pendidikan perdamaian di pasantren Babul Ala Nurillah Beutung Ateuh.
Pertama, Peserta pendidikan perdamaian baik anak-anak maupun remaja punya tas belajar yang unik. Semua secara seragam menggunakan tas plastik bergambar Donal Bebek. Di dalam tas tersebut para peserta menyimpan aneka perlengkapan belajar seperti buku tulis dan pensil. “Biar perlangkapan belajar tetap terawat dan semua perserta merasakan kebersamaan” demikian Teungku Basyarullah, fasilitator pendidikan perdamaian para santri dan santriwati mengemukakan alasannya.
Kedua, hal unik yang lain adalah di atas papan meja belajar berukuran 20×6o senti menter dengan tinggi kurang lebih 10 sentimeter para peserta menuliskan namanya masing-masing. “Biar kami ingat aja” kata Erawati, salah seorang santriwati yang juga merupakan satu dari antara peserta pendidikan perdamaian.
Dalam konteks pendidikan perdamaian dua keunikan ini bukan hal yang buruk, tetapi sebaliknya merupakan media pembelajaran yang menarik. Keunikan pertama mengusung pentingnya arti kesejajaran dan atau kebersamaan. Sementara keunikan kedua mengungkapkan sebuah rasa tanggung jawab dan rasa memiliki.
Inilah model sekaligus modal penting pendidikan, bahwa pendidikan harus menyapa dan menjawab kebutuhan peserta didik. Menjadikan berbagai keunikan dan kebiasaan keseharian sebagai materi pendidikan yang dimaknai secara kreatif merupakan elemen penting sebuah pendidikan alternative.
(Kris Bheda Somerpes)
Comments : Leave a Comment »
Tags: anak aceh, beutung ateuh, pendidikan perdamaian, tas buku
Categories : PEACE AND JUSTICE EDUCATION
Ada Komitmen Di Ujung Tanjung
14 11 2009Rabu, 2 September 2009 bertempat di Pusat Komunitas Tanjungan Blang Meurandeh Beutung Ateuh, sejumlah perempuan yang tergabung dalam kelompok menjahit melakukan pertemuan dengan agenda ‘Membangkitkan komitmen, upaya mengembalikan visi dan misi’ Pertemuan yang dipimpin Teungku Basyarullah, kader pemberdayaan perempuan ini baru diadakan setelah sekian lama senyap di balik kesibukan masing-masing.
Ditemukan beberapa kendala mengapa kegiatan kelompok tampak berjalan di tempat. Salah satu di antaranya adalah apa yang sudah mereka peroleh, seperti latihan menjahit, telah mereka lupa lantaran tidak sering diaktualisasikan. Alasan lain adalah karena struktur kepengurusan yang sudah diplih tidak berjalan maksimal.
Lantaran itu, baru pada awal September komitmen pribadi dan kelompok kembali disegarkan. “Intinya bukan karena bantuan tetapi karena mau berubah ke arah yang lebih baik” demikian salah satu ibu mengemukakan alasan keterlibatannya dalam kelompok. Pernyataan yang sama dikuatkan oleh Teungku Basyarullah, bahwa menurutnya “komitmen untuk berubah dan mau berkembang adalah yang utama, bukan uang” katanya.
Komitmen adalah roh perubahan. Visi dan misi yang menaungi sebuah kelompok harus dipertajam secara terus menerus oleh komitmen. Komitmen mengandaikan seorang pribadi atau kelompok sadar bahwa apa yang sudah, sedang dan akan dilakukannnya memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Komitmen mengandaikan pula seorang pribadi atau kelompok konsisten pada pilihannya dan teguh dalam berprinsip.
Pertama-tama adalah komitmen dalam dan bagi diri sendiri. Selanjutnya komitmen dalam dan bagi kelompok. Dua hal ini harus selalu saling melengkapi, menjadi satu kesatuan agar visi dan misi yang telah digariskan tidak berjalan di luar rel yang sudah ditetap-tentukan.
Inilah komitmen yang digariskan oleh kelompok perempuan di Beutung Ateuh. Mereka sudah memulai dengan sesuatu yang sangat berguna bagi diri mereka sendiri yakni kemauan untuk berubah dengan belajar menjahit. Mereka diharapkan terus berlatih dan belajar, bukan hanya menjahit selembar kain, tetapi merajut kehidupan menjadi semakin lebih baik.

Tengku Syariff, Salah Seorang Kader Pertanian Organik Sedang Merawat Tanaman Cabe, Membersihkannya Dari Hama
Komitmen yang sama, komitmen untuk terus berdaya dan mandiri, lepas dari ketergantungan dan berubah ke arah yang semakin lebih baik dapat diharapkan merasuk sampai kepada kelompok petani dalam kegiatan-kegiatan mereka, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok. Dan juga komitmen yang sama sampai pula kepada kelompok anak-anak dan remaja, baik sebagai pribadi maupun kelompok dalam proses belajar mengajar pendidikan perdamaian.
(Kris Bheda Somerpes)
Comments : Leave a Comment »
Tags: beutung ateuh, kelompok, komitmen, pemberdayaan, pertanian organik, petani
Categories : FARMERS EMPOWERMENT
Komunitas Kita Edisi Juli-Agustus
25 09 2009
Comments : Leave a Comment »
Tags: buletin, komunitas kita
Categories : Uncategorized











Recent Comments