
Komunitas Kita Edisi Juli-Agustus
25 09 2009Comments : Leave a Comment »
Tags: buletin, komunitas kita
Categories : Uncategorized
Melihat Komunitas Lebih Dekat
25 09 2009Komunitas atau masyarakat adalah subjek pembangunan. Filosofi ini harus menjadi latar pergerakan pembanguan komunitas yang berkelanjutan. Artinya masyarakat atau komunitas diberikan kesempatan yang lebih luas untuk memetakan kebutuhannya, menciptakan dan merencanakan perencanaan strategis, melaksanakann program-programnya dan nantinya menemukan tujuannya sendiri.
Peran pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat adalah memfasilitasinya, mememberikan gagasan-gagasan alternative, membantu baik moril maupun financial serta menjadi pendamping komunitas agar program yang direncanakan dapat terlaksana sesuai dengan target, kebutuhan dan tujuannya.
Dengan metode pemberdayaan masyarakat seperti ini, komunitas lebih secara leluasa mengembangkan dirinya. Tingkat ketergantungan kepada pihak luar akan diminimalisir, selanjutnya potensi-potensi, kekuatan-kekuatan internal komunitas diberdayakan secara maksimal. Dan secara mental pun masyarakat atau komunitas sadar bahwa yang sesungguhnya menjadi motor perubahan dalam komunitas atau lingkup masyarakatnya sendiri adalah diri mereka sendiri.
Sistem atau model pemberdayaan komunitas ini penting untuk digalakan dam dikembangkan mengingat beberapa factor penunjang, antara lain:
Pertama, masyarakat atau komunitas lebih mengetahui apa yang menjadi kebutuhannya. Apa yang menjadi tantangan. Dan juga bagaimana mereka menemukan langkah-langkah strategis untuk menyudahi tantangan-tantangan tersebut.
Kedua, dalam komunitas atau masyarakat terkandung potensi-potensi atau kekuatan-kekuatan social (musyawarah, gotong-royong) , politik (peran dalam ruang public) dan budaya (etika dan tata karma) yang dapat dijadikan sebagai medium dan sarana vital dalam mewujudkan pembangunan.
Ketiga, pemerintah terus berganti, lembaga donor pun bisa pergi sementara komunitas masyarakat selalu hidup dan berkembang.
Keempat, biarkan komunitas memberdayakan dirinya sendiri. Baik sebagai pribadi maupun sebagai sebuah kelompok memberikan kepercayaan bahwa mereka mampu membangun dirinya sendiri adalah elemen yang penting.
Lantas di manakah peran kita baik sebagai lembaga swadaya masyarakat maupun pemerintah? Tugas kita adalah sebagai fasilitator pemberdayaan. Memberikan motivasi dan pemikiran-pemikiran alternative, pun mendukungnya secara financial sebagai sebuah media kerja sama.
Bukan sebaliknya mendikte atau memaksanakan setiap progran dan rencana kerja agar dijalankan komunitas, membagi-bagi dan menghambur-hamburkan uang dalam nama proyek yang tidak tepat sasar. Mendesak komunitas agar melaksanakan apa yang bukan menjadi kebutuhannya. Memberi jalan keluar, namun tidak menjawab akar soal. Lantas mempublikasikan diri sebagai berhasil dan sukses. Masyarakat yang mendiri adalah masyarakat yang tidak gigit jari setelah semua kerja sama itu berakhir.
Melihat komunitas lebih dekat, sebenarnya sebuah ajakan moral untuk kita semua agar lebih bahu membahu membangun komunitas. Sadar akan peran dan tanggung jawab kita masing, sebenarnya komunitas perlu didampingi secara intensif. Komunitas merupakan elemen vital bangunan negeri ini. Seperti yang disebut Madekhal Ali (2007) Komunitas, masyarakat atau desa bukan anak tiri perubahan, jadi harus diikutsertakan proses perubahan itu sendiri. Demikian juga dengan arah pembangunan diharapkan bergerak dari bawah, dari komunitas, dari gampoeng (Arie Sujiti (ed) 2007) atau kampong itu sendiri. (Redaksi)
Comments : Leave a Comment »
Tags: komunitas, membangun, strategi
Categories : Pengorganisasian Komunitas
MERDEKA DARI KEMALASAN DAN KEBODOHAN
25 09 2009Seorang anak terburu-buru mengayuh sepeda onthel melewati jalan setapak. Baju lusuh yang dikenakannya jelas menggambarkan dari mana dia berasal. Ia anak seorang nelayan miskin yang seperti hari-hari sebelumnya selalu mengayuh sepeda 80 kilometer pulang pergi dari rumahnya dan melewati jalan setepak itu untuk sampai di sekolah. Namun sayang, tekadnya hari ini untuk sampai di sekolah dihadang seekor buaya yang melintang di atas jalan setapak itu. Ia pun menghentikan sepedanya dan menunggu kemujuran menghalau buaya itu dari hadapannya.
Dua sosok yang berbeda dan mewakili generasi yang berbeda pula terlibat dalam suatu percakapan pagi itu. ”Kita masih membutuhkan satu orang murid lagi agar sekolah ini tetap berdiri, kalau jumlahnya hanya sembilan, tamatlah riwayat sekolah ini.” Kata-kata itu keluar dari mulut lelaki tua kepada seorang ibu guru muda yang duduk di hadapannya. Selanjutnya, dalam kebisuan yang getir kedua guru itu terus menanti datangnya satu orang lagi murid baru agar sekolah itu tidak ditutup pemerintah.
Sebagian dari Anda mungkin masih menyimpan ingatan akan cuplikan dua adegan di atas. Itulah sepintas perjuangan Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara, anak nelayan kampung yang bermimpi dapat mengubah nasibnya dengan bersekolah. Meski untuk itu ia harus mengayuh sepeda onthelnya 80 kilometer setiap hari, setelah sebelumnya memasak makanan dan mengurus adik-adiknya yang masih kecil sambil menanti pulangnya ayah dari melaut. Bila melihat ayahnya kembali, Lintang segera bergegas memburu waktu untuk sampai di sekolah.
Adegan berikutnya adalah Pak Harfan Efendy Noor dan Bu Muslimah Hafsari Hamid, dua guru SD Muhammadiyah yang berharap-harap cemas mendapat tambahan satu orang murid lagi agar satu-satunya sekolah ”murah” itu tidak ditutup pemerintah. Bagi keduanya, ditutupnya sekolah rakyat biasa itu berarti menutup kesempatan bagi anak-anak rakyat biasa untuk mengejar impian mereka.
Kedua adegan itu merupakan cuplikan dari Film Laskar Pelangi yang banyak mendapat pujian dari berbagai kalangan sebagai film nasional yang berhasil menggugah insan peduli pendidikan di tanah air. Dua cuplikan tadi merupakan peristiwa yang terjadi berpuluh tahun silam di desa Gantung, Belitung Timur. Namun sebagaimana diakui banyak pihak, setelah sekian tahun merdeka, kisah yang sama, dan bahkan yang lebih memilukan lagi masih dapat kita jumpai di seantero pulau-pulau kecil terdepan dan pedalaman nusantara yang berjajar dari Sabang sampai Merauke.
Ketiga sosok yang dilukiskan tadi, Lintang, Pak Guru Harfan, dan Bu Guru Muslimah merupakan potret pejuang yang pantang menyerah pada tantangan dan kesulitan hidup. Mereka merupakan potret orang-orang kecil berjiwa besar yang pantang tunduk di bawah jeruji kemalasan dan kebodohan.
Kick Andy, acara yang rutin ditayangkan Metro TV setiap Jumat malam dan Minggu siang pernah menampilkan satu episode tentang wajah pendidikan kita di pedalaman Sumatera Utara, tepatnya di desa Sigoring-goring, Padang Lawas, Tapanuli. Bagaimana Raja Dima Siregar satu-satunya guru di SD setempat harus mengampu semua kelas yang ada di sekolah tersebut karena tidak ada guru lain yang rela ditempatkan di kampung seterpencil itu. Atau kisah penjaga sekolah di pedalaman Papua yang berani bangkit melawan kebodohan dengan menjadi guru SD bagi anak-anak kampung setempat karena tidak ada guru yang betah bertugas di kampung itu.
Mimpi dan semangat untuk membuat hari esok menjadi lebih baik dari hari ini dan keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik adalah juga hak anak-anak daerah terpencil mampu membuat guru-guru yang luar biasa itu total mengabdikan dirinya. Mereka tidak memilih tinggal di ibukota kecamatan, apalagi di ibukota kabupaten. Mereka memilih menetap di kampung dan menjadi guru kampung. Alasan mereka sederhana saja. Mereka mengenal jati diri mereka sendiri. Mereka adalah guru. Bagi mereka sosok guru jauh berbeda dengan pengawas proyek jalan atau jembatan yang pernah mereka lihat. Pengawas proyek boleh datang sekali dua untuk meninjau dan mengawasi jalannya proyek. Bila pengawas proyek tak datang selama seminggu karena ada urusan di ”kantor pusat” itu bisa dimakumi. Namun tidak demikian dengan guru. Guru jelas bukan pengawas proyek. Dan ukuran berhasil tidaknya mendidik anak-anak tidak semudah menyusun bata atau membuat campuran semen dan pasir.
Bila pemerintah terkesan lebih peduli pada angka statistik persentase kelulusan Ujian Nasional, guru kampung yang sejati lebih peduli pada pembangunan karakter anak-anak kampung agar menjadi manusia berkarakter. Manusia berkarakter yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum menjadi pemimpin bagi orang lain. Manusia berkarakter yang peduli pada harkat, martabat, dan harga diri sesamanya sekampung, sebangsa dan setanah air. Manusia berkarakter yang berani menolak tegas penyalahgunaan jabatan dan kuasa untuk memenuhi ambisi dan nafsu rendah keluarga, kelompok, golongan, partai dan kroni-kroninya. Manusia berkarakter yang sadar sungguh bahwa jabatan dan kuasa adalah amanah Sang Khalik dan doa rakyat yang memilihnya yang kelak harus dipertanggungjawabkan ketika raga berkalang tanah.
Bagi Pak Guru Harfan dan Bu Guru Muslimah, dan guru-guru kampung lainnya yang penuh dedikasi, menjadi guru berarti membangun karakter manusia. Namun mereka pun sadar bahwa kerja keras dan keringat mereka tak akan berarti apa-apa bila tak disertai teladan nyata dalam hidup sehari-hari. Menjadi guru berarti untuk digugu dan ditiru. Menjadi guru pertama-tama berarti panggilan hidup. Panggilan hidup sebagai guru kampung berarti berjuang dalam keteguhan hati yang mantap tak tergoyahkan untuk mendidik dan menyemai asa anak-anak kampung untuk menegakkan harkat dan martabat mereka sebagai manusia. Celakanya masih banyak guru yang menolak menjadi guru kampung, guru yang bersedia menetap di kampung. Meskipun pemerintah telah merusaha memberikan insentif di luar gaji yang saat ini tergolong memadai (khususnya bagi guru PNS) namun kelompok guru ini tetap memilih tinggal di ibukota kabupaten, atau setidaknya ibukota kecamatan. Predikat guru kampung, guru yang bersedia menetap di kampung bersama anak-anak didiknya rupanya kurang ”seksi” di zaman Blackberry ini.
Sebaliknya, bagi guru-guru kampung yang bersedia menetap di kampung, hingga kini pun ”semangat memindahkan gunung” dan dedikasi yang mengalir dalam darah mereka tak selamanya dihargai dengan selayaknya oleh para pemimpin bangsa ini. Hal ini terlebih dialami oleh guru-guru non-PNS. Coba tanyakan pada guru-guru sekolah swasta kecil terpencil. Coba tanyakan pada guru-guru honor, kontrak, atau apapaun kategori yang dilekatkan pemerintah kepada mereka. Pemerintah sejauh ini masih sibuk ”membenahi kesejahteraan” rekan-rekan mereka yang secara administraif berstatus Pegawai Negeri Sipil. Entah kapan perhatian pemerintah menjangkau guru-guru non-PNS di kampung-kampung kecil pedalaman terpencil itu.
Kisah piluh ini tak hanya milik para guru. Anak-anak kampung yang mereka didik juga punya kisah sendiri. Anak-anak kampung ini sudah merasa cukup bila masih bisa bersekolah. Mereka seolah tak pernah diajari kosakata ”menuntut” oleh guru-guru mereka, meskipun yang dituntut itu sesungguhnya merupakan hak mereka sebagai anak kandung Proklamasi 1945. Jangankan sepeda, apalagi kereta (baca: motor), mereka bergegas ke sekolah dengan berjalan kaki, kadang mereka harus menyeberangi sungai dengan rakit, namun ada pula yang harus menyeberangi sungai dengan berenang sambil tangan kirinya memegang baju dan buku agar tak basah. Di sekolah, jangankan perpustakaan, untuk buku tulis saja mereka masih harus menanti datangnya musim panen, atau jika ada para dermawan yang ikhlas membantu. Di manakah pemerintah? Untuk apa Pilkada? Untuk apa Pemilu? Masihkah NKRI ada di hati mereka sebagai pewaris negeri ini?
Mereka, anak-anak yang hidup di daerah-daerah pedalaman dan terpencil, juga bapak-ibu guru mereka yang luar biasa itu, mereka sungguh memaknai arti kemerdekaan ini dengan setia. Hari demi hari mereka menolak tunduk di bawah jeruji kemalasan dan kebodohan. Meski mungkin mereka tak mengigat dengan benar susunan sila-sila Pancasila. Atau belum bisa mengucapkan dengan lancar amanat Proklamasi NKRI 1945 yang tercantum jelas dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945: mencerdaskan kehidupan bangsa! Namun impian akan masa depan yang lebih baik, dan semangat ’45 yang selalu mereka kobarkan dengan terus belajar dan mengajar merupakan bukti betapa mereka memahami apa itu artinya MERDEKA! Pada mereka kita mungkin perlu berkaca: apa artinya MERDEKA?!
Leo Depa Dey/KomKit
Comments : Leave a Comment »
Tags: kebodohan, kemalasan, kemerdekaan, pendidikan
Categories : PEACE AND JUSTICE EDUCATION
Gadis Kecil Berkerudung Merah Putih
25 09 2009Gadis kecil itu naik ke pentas menyusul kakak-kakaknya. Penonton pun bersorak. Si kecil tidak tampak malu. Sesekali ia melepas senyum sembari terus menari. Gerakannya selalu menyusul beberapa detik kemudian, sedikit lebih lambat. Tetapi ketika menaburkan potongan kembang merah putih, si kecil tampak lebih atraktif. Sampai-sampai sesekali membenarkan kerudung merah putih yang melorot menutupi matanya.
Dialah si kecil berkerudung merah putih, kakaknya memanggilnya si Inong, salah satu peserta tari tarian Ranup Lampuan dari desa Layung kecamatan Bubon Aceh Barat. Sanggar tari Ranup Lampuan dari desa Layung adalah salah satu peserta dari lima peserta grup tari (grup Rapai dari Padang Sikabu, grup Meusekat dari Seunebuk Trap, grup ranup lampuan dari Gunong Panah dan Rapai dari Planteu SP) yang turut hadir mengisi acara malam seni damai dalam rangka memperingati empat tahun penandatangan MoU Helsinki dan enam puluh empat tahun kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indoensia pada malam 17 Agustus 2009 di lapangan Kota Padang Bubon Aceh Barat.
Hadir dalam acara tersebut adalah Nyak Man BA camat kecamatan Bubon beserta jajaran Muspika. Dalam sambutannya beliau menegaskan pentingnya menjaga tali silaturahmi antar komunitas di seluruh kecamatan Bubon, “Karena dengan membentuk kerjasama, saling mendukung antar komunitas maka perdamaian dapat terjaga dan pembangunan dapat terlaksana dengan baik”
Pembagian Trophi Juara
Pada acara yang sama juga panitia pelaksana yang diketuai oleh Tarmizi, SE Sekretaris Camat kecamatan Bubon menyerahkan trophy penghargaan kepada pemenang lomba pertandingan antara lain sepak bola, bola volley, dan lomba masak ibu PKK.
Dalam sambutannya sebelum menyerahkan trophy, Tarmizi memuji kerja sama dan sportifitas para pemain “Pertandingan apa pun jenisnya telah berjalan dengan damai, ini menjadi tanda bahwa kita sudah semakin sadar akan perdamaian dan masa depan kita sendiri” jelasnya.
Seusai penyerahan trophy, gadis kecil berkerudung merah putih naik ke pentas menyusul kakak-kakaknya. Penonton pun bersorak. Si kecil tidak tampak malu. Sesekali ia melepas senyum sembari terus menari. Si kecil berkerudung merah putih itu adalah generasi aceh masa depan. Dalam caranya yang sederhana ia telah berperan membangun masa depan.
(Kris Bheda/KomKit)
Comments : Leave a Comment »
Tags: aceh, malam seni damai, pembangunan perdamaian, transformasi konflik, volley perdamaian
Categories : BUDAYA DAMAI, CONFLICT TRANSFORMATION AND PEACEBUILDING
Mewujudkan Kepemimpinan Partisipatif
25 09 2009Pelatihan CEFIL (Civic Education For Future Indonesian Leaders Training) yang diselenggarakan oleh Lembaga SATUNAMA yang bekerja sama dengan Lembaga Internasional KONRAD ADENAUER STIFTUNG, pada tanggal 13-18 July 2009 merupakan suatu pelatihatan tingkat dasar atau Basic Level. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada calon-calon pemimpin masyarakat sipil agar mampu manjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kebutuhan masyarakat.
Dalam situasi ini para pemimpin dituntut untuk menjadi lebih demokratis, transparan dan lebih bersifat partisipatif dalam menjalankan tugasnya. Tujuan dari pelatihan ini adalah menciptakan pemimpin masyarakat sipil yang mampu mendorong Setelah mengikuti pelatihan selama seminggu, dan memperoleh pengalaman yang cukup, dapat dirangkumkan beberapa hal yang dapat diterapkan untuk mendukung program pemberdayaan masyarakat di Laktutus.
Mengembangkan system kepemimpinan yang partisipatif (inti dari demokrasi), dimana pemimpin yang partisipatif harus mampu merumuskan apa yang akan dilakukan bersama masyarakat, bergerak bersama masyarakat, dan maju bersama masyarakat yang didampingi.
Membantu mendorong usaha untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. Dengan kepemimpinan yang partisipatif masyarakat harus dilibatkan sejak penemuan ide/gagasan, implementasi, sampai pada usaha-usaha mandiri setelahnya. Masyarakat diajak untuk memunculkan rasa tanggung jawab, rasa memiliki, dan dengan itu menjamin dampak jangka panjang dari suatu program/kegiatan.
Dalam interaksi dengan masyarakat atau kelompok lain perlu adanya kemampuan untuk menganalisa kebutuhan dan persoalan masyarakat. Serta punya kemampuan untuk memfasilitasi proses mencari jalan keluar bersama. Hal ini merupakan inti dari kepemimpinan di tengah komunitas.
Aspek yang paling penting adalah menerapkan Analisis Sosial yaitu: kemampuan untuk memfasilitasi, dan kemampuan untuk memobilisasi kegiatan/gerakan bersama. Caranya adalah dengan melibatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan tugas dan peran kita masing-masing.***
Comments : Leave a Comment »
Tags: kepemimpinan, partisipatif, pelatihan cefil, pemberdayaan komunitas
Categories : SUNSPIRIT Timor
MERAJUT DAMAI DARI GEUNANG GEUDONG SAMPAI SUAK TIMAH
25 09 2009Dua puluh enam remaja putra dan putri saling membantu menutup mata temannya dengan syal hijau dan merah. Tak lama berselang mereka mulai berjalan beriring perlahan dalam dua kelompok yang berbeda dan melewati rintangan demi rintangan dari tali dan tongkat yang telah dipasang di hadapan mereka. Ada saat mereka harus merangkak, sesekali harus tiarap atau melompat. Semua itu mereka lakukan dalam kelompok. Kerjasama kelompok, antara ketua dan anggota, merupakan kunci untuk sampai ke tujuan dengan selamat dan sukses. Itulah salah satu pengalaman peserta Peace Education dari SMAN 1 Bubon ketika mengikuti kegiatan Peace Education di Geunang Geudong, Kawai XVI, Aceh Barat pada Minggu 2 Agustus 2009.
Selain game blind walk, mereka juga sangat antusias mengikuti game-game berikutnya seperti memindahkan bola di atas tali, tangga manusia, dan menjatuhkan tubuh ke arah teman. Pada akhir permainan, sambil melepas lelah dan menikmati minuman dingin yang menyegarkan, mereka bersama-sama mencoba menggali pelajaran dan hikmah dari keempat permainan tadi. Nurjanah dan Fifiyanti sebagai fasilitator mengajak mereka untuk terlibat secara aktif dalam memaknai dua topik hari itu yakni, (1) Kepemimpinan dan Kerjasama dalam Membangun Perdamaian serta (2) Mengembangkan Rasa Saling Percaya dalam Membangun Perdamaian.
Pelajaran yang mereka petik dari permainan blind walk dan memindahkan bola di atas tali adalah pentingnya kombinasi antara peran pemimpin dan kerjasama seluruh anggota kelompok dalam mencapai tujuan bersama dengan selamat dan sukses. Sedangkan pelajaran dari permainan tangga manusia dan menjatuhkan tubuh ke arah teman adalah pentingnya membangun rasa saling percaya dalam membangun perdamaian sebagaimana ditunjukkan oleh kedua belah pihak yang bertikai selama puluhan tahun di Aceh. Sebaliknya hilangnya rasa saling percaya harus dibayar dengan terancamnya keselamatan anggota kelompok. Hal yang sama terjadi dalam konteks sejarah Aceh, hilangnya rasa saling percaya merupakan tungku bagi api konflik berpuluh tahun. Semoga pelajaran hari ini yang dikemas dalam metode permainan yang partisipatif dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membangun budaya damai sejak dini dalam diri peserta Peace Education.
Pantai Suak Timah, Samatiga, Minggu, 9 Agustus 2009, empat kelompok siswa/i SMA terlihat berjuang mati-matian mempertahankan posisi mereka dengan memegang erat tali tambang dengan kedua tangan dan berusaha menarik lawan sampai melewati garis pembatas. Mereka sedang terlibat ”adu otot” dalam permainan tarik tambang empat arah yang akan berlangsung dalam empat putaran. Empat kelompok remaja itu tidak menunjukkan niat untuk mengalah ataupun berkompromi ketika jeda antarputaran tiba meskipun telah diberikan waktu untuk itu, masing-masing kelompok sama sekali tak bergeming, pilihan mereka sangat jelas: menang atau kalah. Dan keempat-empatnya ngotot untuk menang.
Empat putaran selesai. Hasilnya, ada kelompok yang meraih dua kali kemenangan, ada yang sekali, tetapi ada pula yang tidak mengecap kemenangan sama sekali. Tarik tambang empat arah merupakan salah satu media belajar remaja-remaja SMA hari itu selain drum circus, net tunnel, dan reservoir. Keempat permainan hari itu hendak membawa mereka untuk menyadari realitas kehidupan yang sering mereka jumpai sehari-hari. Di bawah topik (1) Win-win Solution sebagai Prinsip dalam Menyelesaikan Konflik dan (2) Kooperasi dan Kolaborasi dalam Rangka Mencapai Tujuan Bersama, 22 siswa/i SMAN 1 Meulaboh dan 19 siswa/i SMAN 2 Meulaboh yang merupakan perserta Peace Education membaur dan menyatu selama kegiatan sepanjang pagi hingga sore hari itu. Selain antusias dalam mengikuti permainan-permainan, mereka juga terlibat aktif dalam refleksi akhir untuk menyelami makna dari setiap permainan dengan dampingan Fifiyanti (fasilitator), serta Arma dan Purnama (alumni Peace Education SMAN 1 Meulaboh).
Melalui permainan drum circus, net tunnel, dan reservoir mereka belajar bahwa perdamaian Aceh yang telah dicapai merupakan buah dari kerjasama dan kolaborasi dari semua elemen masyarakat Aceh. Seperti dalam permainan tersebut, setiap anggota kelompok memiliki peran yang khas dan saling melengkapi sehingga mereka bisa sukses menyelesaikan setiap ”tantangan” dalam permainan. Mereka juga belajar untuk merayakan kemenangan dalam permainan itu bersama-sama tanpa tergoda untuk mengklaim siapa yang paling berjasa dalam membawa kelompoknya sukses menyelesaikan permainan.
Permainan tarik tambang empat arah membangkitkan kesadaran mereka untuk tidak terkungkung ke dalam pola pikir menang-kalah yang terbukti telah membawa Aceh ke dalam jurang konflik berkepanjangan. Sebaliknya mereka diajak untuk berpikir kreatif dan mengutamakan prinsip win-win solution dalam menyelesaikan perbedaan dan konflik dalam kehidupan sehari-hari karena dengan cara demikian pula perdamaian Aceh berhasil digapai.
(Leo Depa Dey/Staf Peace Education)
Comments : Leave a Comment »
Tags: integrasi sekolah, pendidikan perdamaian, sma 2 meulaboh, SMA I Meulaboh
Categories : PEACE AND JUSTICE EDUCATION
Ragam Kegiatan di Bulan Puasa
25 09 2009Pusat Komunitas di desa Blang Meurandeh Beutung Ateuh Nagan Raya tampak tidak pernah kosong dari aktivitas. Berdasarkan pantauan KomKit, pusat komunitas yang berbentuk rumah adat Aceh itu, sepanjang Agustus selalu ramai didatangi para santri dan santriwati dengan berbagai kegiatan yang beragam. Sekelompok santri dewasa setiap hari rutin menata Anggrek local di lantai dasar pusat komunitas. Sekelompok santri dewasa yang lain melakukan kegiatan menganyam rotan dan memproduksi pupuk.
Teungku Syarif, kepala pusat komunitas mengatakan berbagai kegiatan yang seharusnya dilakukan para petani di kebun pada hari-hari sebelum puasa, di bulan puasa ini dipusatkan di pusat komunitas. Berbagai kegiatan dilaksanakan di lantai dasar pusat komunitas tersebut, selain melakukan berbagai pertemuan, juga tampak kegiatan-kegiatan lain seperti mengolah pupuk dan menyemai Anggrek.
Di lantai dua, pusat komunitas dipenuhi oleh puluhan anak-anak dan remaja yang secara rutin mengikuti kegiatan pasantren kilat. Di waktu jedah kegiatan, tampak sekelompok anak sedang mengamati berbagai poster ilmu pengetahuan alam dan biologi yang menghiasi dinding. Sekelompok yang lain sedang belajar mempergunakan computer. Sekelompok yang lain lagi khusuk membaca di dalam ruang perpustakaan yang berukuran dua kali empat meter itu.
Teungku Basyarullah, fasilitator pendidikan untuk anak-anak dan remaja di Beutung Ateuh mengatakan bahwa selama bulan puasa para santri dan santriwati pemula yang terdiri atas anak-anak dan remaja melakukan berbagai kegiatan yang secara rutin dilaksanakan di pusat komunitas tersebut. “mereka selain diajarkan shallat dan mengaji, juga pendidikan sejarah dan pengetahuan umum lainnya. Pada ahari-hari terakhir menjelang Lebaran akan dilakukan ujian. Ujian bukan pertama-tama dimaksudkan untuk kemampuan, tetapi memberi motivasi dan semangat agar para santri dan santriwati lebih giat belajar baik di pasantren maupun di sekolah” jelas Teungku Basyarullah.
Demikianlah ragam kegiatan yang dilakukan di pusat komunitas Beutung Ateuh. Ada dua tujuan utama yang mau dicapai dari berbagai kegiatan tersebut. Pertama, menjadikan pusat komunitas dan pusat pertanian organik terpadu sebagai pusat kegiatan-kegiatan. Itu artinya pusat komunitas menjadi model contoh dan model untuk setiap aktivitas atau kegiatan pemberdayaan. Di sana dilatih berbagai kegiatan yang menuntut pada penguatan kapasitas baik pribadi maupun kelompok agar menjadi mandiri dan berdaya. Penguatan kapasitas dilakukan melalui kegiatan-kegiatan dengan metode dan cara yang komunikatif dan partisipatif.
Kedua, tujuan lain dan utama semua kegiatan yang dilakukan adalah membangun integrasi bukan hanya sekedar silaturahmi dalam arti fisik, seperti pertemuan dan berkumpul.Ttetapi juga perjumpaan untuk penyamaan visi dan misi, bahwa dalam membangun perdamaian aceh yang berkelanjutan, juga pembangunan komunitas yang berdaya dan mandiri semua elemen masyarakat harus terlibat dan berperan serta sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
(Ismail/KomKit)
Comments : Leave a Comment »
Tags: beutung ateuh, pasantren babul mukarammah, pasantren kilat, pendidikan perdamaian
Categories : PEACE AND JUSTICE EDUCATION
Selamat Menjalankan Ibadah Puasa
6 09 2009
Comments : Leave a Comment »
Tags: SUNSPIRIT, ucapan selamat
Categories : Uncategorized
Komunitas Kita Edisi Terbaru
29 08 2009
Comments : Leave a Comment »
Tags: komunitas kita, meulaboh, SUNSPIRIT
Categories : Uncategorized










Recent Comments